Click2irma’s Weblog

balloonsI am so thank to the Lord for sending me the best people as His spirit representatives, “The Merciful”, “The Caring”, and “The Loving” through the eyes of my friends, my sisters, my flesh-and-blood.
We use to get stucked, startled by problems which come from ourselves, and took less lesson from the experience. Some people could take lots of lesson, and some are not.
I am the one who learned less form my experience, but at least, I’m trying to dig the bright side of the experiences…I tend to see the problem too serious and think that I am the poorest person in the world.
I’m to focus on my problem, too selfish; too startle on me…all is about me and myself. Seeing less on others’ problems, seeing and learning less from “the environment” around me.
Yesterday, I’ve just realized, that how selfish I am, ignore my truly best friend who is so kind to me, never complaint on me who always bother her with my complaints and constraints about life. I asking about her condition less, does she facing problems too or not…
I just realized when I asked her yesterday (before that, I’m talking about me, myself and I as usual), that how heavy her job, how many things which must be completed, how busy her on changing other people’s works who leaved the workplace she work for because of finding another job or got sick..
But you know what, she never complaint for that. She just said with joke, “My friend, who was accepted as Civil Servant leaved many pending jobs to do, moreover my other friend in Marketing Department is going to leave soon, too. My suffering is complete now…I’m going to die soon…hahaha…”
And after that, she still encouraged me not too think too serious on my problem, her words which reminds me till now was, “I pray for you to learn the best from your best experiences, I don’t pray for you to get the best as change for all the miseries you faced because I believe that God always gives the best for you, sis..God wants you to learn and trust you that you can go through all these miseries.”
I owe much from her kindness in encouraging me, introducing me to the “world” (including finding me a soul mate, hahahaha), and now (just realized), I owe her from the positive thoughts she gave and the toughness she had in facing life. She taught me on how to “do more and complaint less”.

Advertisements

Dear Tuhan,….

Berat skali masalah ini yang Kau anugerahkan padaku..
Tapi Tuhan,..tidak apa-apa deh..mengingat ini salah satu fasilitas dariMu untuk semakin dekat padaMu..

Tuhan,…
Bersihkan dan luruskan niat ku untuk ikhtiar memperbaiki diri lebih baik untuk cobaan ini dong..

Temani aku Tuhan..sertai aku di tiap-tiap ikhtiar dan kesabaran ku menghadapinya..

Ya Tuhan,..tapi kok ni air mata meleleh terus seperti es krim (rasanya asin..nda manis kaya es krim..nda enak!), hatinya susah ikhlas ya Tuhan?
tolong dooooooooong….

Gantikan dengan yang lebih baik, luaskan hatiku dengan cara memandang masalah ini lebih kecil dari keluasan hatiku….,

Teguhkan hatiku dalam menghadapi gelombang ini agar aku bisa memilih jalan yang baik dan benar dalam menjalaninya…

Jadikan aku raja atas sikapku…walaupun aku tidak bisa merubah takdir, tapi aku masih punya pilihan kan Tuhan bagaimana menghadapi takdirMu…

Dan… aku memilih tetap tersenyum daripada kesal terhadap apa yang terjadi..

Asal Kamu tetap ada di sekitarku Tuhan..

Ya Rabb,tuntun aku Tuhan..sudah rada-rada buta nih..

Gapai tanganku Tuhan, aku hampir tenggelam..

….Agar aku bisa penuhi hidupku dengan cinta pada Mu…

You are enough for me, Dear God..Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir…laa haula wa laa quwwata illa billahil aliyyil adhiim…
Wa shallallahu alaihi wa sallaam…

NabiMu lebih berat ujian nya dariku, Ya Allah..dan dia tidak pernah mengeluh sedikit pun!

Dendam adalah membekasnya “keburukan” orang lain di dalam hati……yang sama artinya dengan membekasnya suatu “kebaikan”.
Sangat “manusiawi”, ketika kita disakiti, kita akan merasa tidak nyaman, marah, bahkan dendam.
Tapi apakah kita pernah menelaah, apa akibatnya bagi diri kita sendiri (dan bukan orang lain) dikarenakan perasaan “dendam” yang kita pelihara?
Dalam sudut pandang orang yang memelihara dendam di hatinya adalah totalitas ketidaknyamanan terhadap diri sendiri : berprasangka buruk terhadap diri sendiri dan utamanya orang lain, karena ia berpikir, orang lain juga akan melakukan hal yang sama buruknya dengan orang yang meninggalkan rasa dendam/sakit itu.

Dendam yang terpelihara di dalam hati, akan tercermin jelas di fisik kita: muka selalu murung dan sedih, berhasil “memproduksi” kata-kata sinis bagi diri sendiri dan orang lain, badan kurus dan cenderung menyakiti diri sendiri. Akibatnya, orang-orang juga akan merasa tidak nyaman berada di dekatnya dan menjauhinya (kecuali orang-orang yang beruntung yang mempunyai “sahabat” sejati yang rela menemani dan membantu “pemelihara dendam” ini untuk keluar dari jeratannya).

Dendam bisa berakibat FATAL bagi diri sendiri :
Pertama, kita akan kehilangan orang-orang yang betul-betul tulus mencintai dan menyayangi kita
Kedua, sifat ini akan mematikan akal dan hati kita…menjadikan kita,
Berhenti menjadi orang yang pengasih,
Berhenti berkreativitas dan berpikir positif,
Berhenti menyadari bahwa betapa berguna dan istimewanya kita bagi orang lain yang masih membutuhkan “keberadaan” kita.

Semuanya hanya karena dendam kepada satu orang dan hal itu sudah lewat dan tidak lagi bisa di”ubah”.
Apakah kita akan terus tinggal dan berdiam diri memelihara “dendam” ini? Walaupun kita sadar potensi besar yang kita miliki dalam diri, jiwa dan hati kita untuk bisa merubah “dunia”?

Betapa istimewanya kita yang di beri potensi akal dan hati untuk membangun diri dan menjadi berguna bagi sekitar.
Betapa banyaknya orang lain yang menghadapi masalah yang jauh lebih kompleks, menyedihkan dan menyakitkan hati dibandingkan dengan kita.

Kita hanya terlalu terpaku pada satu pintu hati yang tertutup sehingga tidak menyadari pintu-pintu hati lainnya yang terbuka dengan tulus dan penuh kasih untuk kita yang dibuka lebar oleh sahabat dan keluarga kita.

“Kebaikan” sama halnya dengan “keburukan”, bisa membekas dan terpatri dalam hati kita..

Adalah menjadi pilihan kita, memilih untuk tetap berada dalam lingkaran “keburukan” atau lingkaran kasih “kebaikan”…

Bila kita memilih untuk menjadi ”lebih baik”, maka MAAFKANlah dan AMPUNI lah orang yang telah menyebabkan dendam itu.
Betapa Allah begitu baik membagikan sifat “kasih” dan “sayang”Nya kepada diri kita sewaktu kita dilahirkan di dunia ini..
Dan betapa bodoh dan sombongnya kita, tidak menyadari dan tidak mengakui kedua sifat baik kita itu.

Memaafkan memberikan kita dua hal yang baik:
Satu, kita mendapatkan pahala (terdengar klise bagi pecinta diri sendiri dan dunia).
Dua, mensyukuri Dzat yang telah menempatkan kita pada posisi orang yang memaafkan dan orang lain pada posisi yang keliru.

Lalu, sempurnakanlah Pemaafan dan Pengampunan kita dengan KETULUSAN.
Lihatlah dari sisi lain, sadari bahwa sikap menyakitkan yang dilakukan orang lain terhadap diri kita tidak lain karena dosa pribadi kita, atau untuk menguji kesabaran diri.

Diatas semuanya,
Berfikirlah dan tanamkan dalam hati : Segala sesuatunya adalah takdir dari Allah, SWT.
“(yaitu)…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran : 134)
D A N
“ Kemudian Tuhanmu (pelindung) bagi orang yang berhijrah setelah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan bersabar, sungguh, Tuhanmu, setelah itu benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS.An Nahl: 110)

Sekali lagi,
Adalah menjadi pilihan kita, memilih untuk tetap berada dalam lingkaran “keburukan” atau lingkaran kasih “kebaikan”…

Dedicated to:
The one who is hurted and in progress of recovering self: You are NEEDED AND SPECIAL!

Khusyu’? Apaan tuh? sejenis makanan ringan kah? hehehehe.

Berikut adalah term/definisi, atau apalah itu namanya,..tentang makna Khusyu buat saya pribadi (yang Insyaallah di aplikasikan, tidak hanya di posting di blog ini. Doakan ya..)

Menurut saya, khusyu’ adalah cara/proses fokus dengan menyatukan hati dan pikiran dan memusatkannya pada satu titik.

Yang kebanyakan orang awam tahu (saya, salah satunya) kata “khusyu'” itu identik dengan ibadah sholat, jadi tujuannya adalah Percaya pada Allah pada saat beribadah dan menjadikannya satu-satunya tujuan akhir ibadah.

Lalu…lalu…
1. Apa kita hanya perlu khusyu’ ketika sholat saja?-untuk akhirat saja?-
2. Tidak perlukah nilai khusyu’ dalam kehidupan sehari-hari kita?
3. Apa nilai khusyu’ itu hanya untuk orang Islam?

The answer is……in progress….
tidididididididit…………..
………………..
tidididididididit…………..
…………………
tidididididididit…………..
…………………

Through my self-contempaltion, (ciee…mantabnya di dengar deh..).
1.
Fakta ketika kita sholat dengan menyatukan hati dan pikiran ke satu titik (khusyu), kita bisa mendengar diri kita melafazkan ayat-ayat suci Al Quran (lebih mantab lagi kalo tau artinya) yang merupakan GBDHK (Garis-garis Besar dan Detail Haluan Kehidupan) nya manusia…halah, apa coba..
Kalo qta meresapi nilai-nilai surah2 yang dibaca, dan bacaan2 sholatnya..ya sudah, lengkapmi…hipnosis diri kita…reveal!
Soalnya di sholat ada peraturan2nya, ada nasehat2nya, ada ketenangan batin yang di dapat bgitu slesai (kalo khusyu’)..
2.
Apa kita hanya khusyu pada saat sholat saja?
Gini, gini, kita hidup di dunia, ada peraturan nda?
Kalo kita melanggar peraturan, rasanya gimana, efeknya ke mana?
Kalo kita menaati peraturan, efeknya ke siapa?
Tujuan kita hidup apa? stelah kita bekerja, punya uang banyak, menikah, punya anak-anak yang lucu-lucu,pintar, suami/istri yang baik, keren…cukup bahagia kah kita?
Banyak kok orang yang punya semuanya tapi masih bunuh diri juga..karena apa ya? karena nda khusyu’…tujuan hidupnya nda jelas…
3. Khusyu’ tidak hanya utk org Islam. tapi utk semua agama yang percaya pada Tuhan..

Mungkin hanya beda penggunaan kalimat..

Tujuan khusyu’ dari sholat apa?Allah kan?

Tujuan khusyu di kehidupan sehari-hari/dunia? Ya Allah juga.

Tujuan khusyu utk akhirat? Ya Allah…!

………………..
Tapi masing-masing orang berhak untuk memilih apa yang menjadi tujuan hidupnya..

(*sigh*)

Watching TV, seeing the slaughtering of Palestinian,the babies died shot right on their head, the parents doing sholat ghaib (a pray for the corpse before burying it) for the three 1 month babies at the same time, and seeing those who left behind just saying through their cries :”Hasbunallah wa ni’mal wakiil…Ni’mal maulaa, wa ni’man nashiir..”
(

They can’t do much more effort physically to defend on their rights to life. But the sentence has the very biggest power ever in the humanitarian Period of time.

It is the sentence which save Abraham AS, the Prophet, from an enermous gigantic fire. This sentence, is also has helped many human beings from disasters…

This sentence is also effective to calm us down because we believe that we can do anything beyond us, but we believe in God, that He will fulfill it.

It’s all because: God is enough for us. There will be anything impossible if God involves in our life as the problem solver, because He has us!physically and spiritually!!

I experienced it! and the sentence had recovered me and shows its miracle. Thnk You Allah, and Love You lots!! Please send my best regards to Mohammed SAW the prophet who had taught us and retell the Holy Spirit of the sentence..Bless him and his family, bless all the Palestinian, bless my family and me, Ameeen!!

When you have problems and feels down,

and you need someone to talk to,

to listen to you, to help you solve your problem..

By the time you talk to someone about your secret (even to your truly best friend) you have to take the consequence that yor secret might be opened, which might be double troubles? or even triplets troubles? or quartet troubles?

So then, whom do we talk with?

Let’s  see, why we should tell others about our secret?

1. Everybody has problem since he/she created by the Almighty. It called as  ” destiny”.

2. Keeping the problem alone is hurting us more, and sharing with others might release us. Because there will be someone who can listen to us, and if we are lucky, he/she might give sollution to us.

For the first point, I can’t do anything or say more. It is a destine.

But for the second point, I want to give comment on it.

Have we tried speaking to ouselves to solve our problems?

Well, a friend might listen to us, but some of them, might say words (which may be he/she not intend to hurt you) which might be you don’t accept,like :

” Come on, cheer up, your problems just a cupcake, other has much more heavier problem than yours…take a deep breath lah…”

You don’t accept it, because you believe that the problem is not as easy as your friend think…worse, if he/she laugh at you…

Some friends might say that words on you…

But, will God say that on you?

Talking to friends might solve your problem…

But, won’t God solve it to you?

Talking to friends might take consequence other will know the secret too, if you break up with your friend…

But, will you break up with God?

Through this writing, I don’ t mean I don’t trust my bestfriends anymore..(Which I had so many of them!). I also don’t mean I need nobody to talk to about my problems..

I just try to minimize telling others about the problems I face.

What  I insists here is just…we seldom talk to ourselves about the problem we face,..as a matter of fact, God talk to us more to ourselves, through…our heart…

We just have habits to talk to someone and show our weaknesses, worse, blame God for what has done to us..

We like to show our weakness on others and ashame to show our weakness to the Real Best Helper ever..

We never ask ourselves that the problem we are facing is just coming out from ourselve? that we are the one who create it?

We are least trust on ourselves that we have ability to solve our own problems..and just too stupid to know and realize that The Best Helper is just around us…never leave us,..and always be there to protect us…

“Hasbunallah wa ni’mal wakiil…” God is enough for me..

Watching TV, seeing the slaughtering of Palestinian,the babies died shot right on their head, the parents doing sholat ghaib (a pray for the corpse before burying it) for the three 1 month babies at the same time, and seeing those who left behind just saying through their cries :”Hasbunallah wa ni’mal wakiil…Ni’mal maulaa, wa ni’man nashiir..”
(

They can’t do much more effort physically to defend on their rights to life. But the sentence has the very biggest power ever in the humanitarian Period of time.

It is the sentence which save Abraham AS, the Prophet, from an enermous gigantic fire. This sentence, is also has helped many human beings from disasters…

This sentence is also effective to calm us down because we believe that we can do anything beyond us, but we believe in God, that He will fulfill it.

It’s all because: God is enough for us. There will be anything impossible if God involves in our life as the problem solver, because He has us!physically and spiritually!!

I experienced it! and the sentence had recovered me and shows its miracle. Thnk You Allah, and Love You lots!! Please send my best regards to Mohammed SAW the prophet who had taught us and retell the Holy Spirit of the sentence..Bless him and his family, bless all the Palestinian, bless my family and me, Ameeen!!